Pelaku pasar di pasar komoditas pasti mengenal sosok yang di juluki sebagai ' The God Of Crude Oil Trading', Andrew J. Hall. Trader yang sukses mengantungi return (imbal hasil) sekitar $ 100 Juta pada periode 2008 dan 2009 ini di kenal visioner karena selalu sukses menerka pergerakan harga minyak. Namun terlepas dari rentetan rekor bagus yang ia ciptakan, Andrew Hall juga pernah mengalami masa-masa kerugian.
Andrew J. Hall adalah chief executive officer Phibro LLC dan pemilik perusahaan investasi hedge fund, Astenbeck Capital Management LLC. Phibro sendiri merupakan perusahaan trading komoditas yang telah berumur lebih dari satu abad dan sekarang menjadi anak usaha Occidental Petroleum Corp. Nama Andrew Hall selalu identik dengan Phibbro karena ia sudah menahkodai perusahaan ini selama lebih dari tiga dekade.
Phibro sebenarnya bukan nama asing di industri keuangan karena sempat menyita perhatian publik di tahun 2009, Kala itu CEO Andrew Hall meminta bonus sebesar $ 100 Juta dari Citigroup, yang merupakan pemilik Phibro sebelum diambil alih oleh Occidental. Pria Inggris ini mengklaim dirinya berhak atas uang itu karena Phibro sukses menghasilkan laba $ 2 miliar untuk Citigroup dari trading komoditas. Sayangnya, bonus itu tidak kunjung cair karena Citigroup terlanjur masuk dalam program bailout pemerintah Amerika Serikat.
Apabila di urut ke belakang, latar belakang pendidikan Andrew Hall sesungguhnya tidak terlalu relevan dengan pilihan karirnya. Setelah memperoleh gelar sarjana kimia dari universitas Oxford, ial langsung bekerja di perusahaan energi asal Inggris, British Petroleum Plc (BP) pada tahun 1969. Hall kemudian berkesempatan menjalankan unit bisnis BP di New York sehabis mengantongi titel MBA dari sekolah bisnis INSEAD, Prancis. Kinerjanya yang apik semasa mengabdi di Phibro ternyata menarik perhatian Tom O'Malley, salah satu trader berpengalaman di Amerika. Bersama O' Malley, Hall memborong posisi beli (Long) dalam jumlah besar sehingga pundi pundi keuntungannya terus berlipat ganda. Kesuksesan itulah yang membuat namanya bersinar sampai ditunjuk sebagai CEO Phibro pada tahun 1993.
Gaya Trading.
Andrew Hall lebih intensif mengembangkan gaya trading buy and Hold agresif ketimbang trading untuk jangka pendek. Pada tahun 2003, ketika iklim perekonomian masih belum normal pasca dotcom crash, harga minyak berada di kisaran $30 per Barel, Pria yang juga memiliki investasi di sektor properti ini melihat harga itu terlampau murah, padahal permintaan minyak di prediksi akan meningkat terutama dari negara-negara ekonomi baru seperti China dan India. Dengan bekal keyakinan dan modal yang besar, Hall memasang posisi long pada minyak berjangka.
Dengan strategi buy and hold, ia yakin kalau minyak akan mencapai $100 per barel dalam lima tahun. Mengingat harga sudah bertahan pada level $30 dalam tiga dekade terakhir, banyak investor maupun trader menyangsikan ramalan Hall, bahkan menjadikannya olok olok. Terlebih lagi apabila target $100 gagal tercapai, maka Hall tidak akan mendapatkan apa-apa ketika masa kontrak habis.
Skeptisme pelaku pasar akhirnya terjawab setelah harga minyak melesat naik hingga mencapai level yang di targetkan oleh Andrew Hall, dan bahkan melewatinya di tahun 2008. Kemampuan bos Phibro ini dalam memprediksi arah pergerakan harga dan menentukan entry point (titik masuk) kemudian mendapat apresiasi besar oleh publik. Ia bahkan melakukan sesuatu yang di luar ekspektasi, yaitu memberikan rentang waktu kenaikan harga secara akurat. Kemahiran inilah yang membuatnya dijuluki sebagai " The God of Crude Oil Trading ". Sebagai pelengkap reputasi pribadinya, Andrew Hall juga sukses memprediksikan penurunan harga minyak setelah tahun 2008.
Walaupun tidak pernah gagal menunjukkan kinerja impresif untuk urusan laba per tahun, pria yang dikenal introvert ini juga harus mengalami kerugian dalam dua tahun periode transaksi. Hedge Fund milik Andrew Hall, AstenBeck, merugi di tahun 2011 sekaligus menandai kerugian pertamanya dalam 14 tahun berkarir. Ramalannya soal kenaikan harga minyak tidak terbukti lagi, dan bahkan level minyak saat ini kurang lebih sama dengan harga di tahun 2011.
Pada tahun 2013, Astenbeck yang baru berusia enam tahun, kembali mengalami kerugian yang jumlahnya lebih besar dibandingkan loss di tahun 2011. Perusahaan yang baru berdiri ini merugi akibat volatilitas miyak mentah AS berada pada level; terendahnya dalam 17 tahun terakhir. Padaal bagi perusahaan hedge fund, keuntungn transaksi komoditas sangat tergantung pada tingginya volatilitas harga.
Menurut sumber dalam Astenberg yang dikutip oleh media keuangan Bloomberg, Andrew Hall saat ini sedang memegang posisi long dan memprediksi harga minyak akan menyentuh $150 per barel dalam lima tahun ke depan. (2019)
Pada bulan Februari 2014 lalu, Andrew membeli kontrak berjangka minyak mentah Desember 2019 senilai $76 per barel, dan pada bulan Juli harga kontrak tersebut sempat di $88 per barel. Apabila ia menjual kontrak tersebut pada bulan Juli lalu, maka ia memperoleh profit $12 per barel, atau setara 16%. Namun dalam kenyataannya, ia tidak menjual kontrak tersebut dan bersikukuh menunggu kenaikan harga sesuai prediksi awal.
Sepertinya reputasi 'The God of Crude Oil Trading' akan benar benar di pertaruhkan dalam posisi long kali ini.
@
Tagged @ Kisah Sukses


1 komentar - Skip ke Kotak Komentar
Dapatkan $123 di dalam akun bonus Di FBS
Bonus bisa dipakai untuk trading selama 7 hari kerja dari bonus masuk ke akun
Profit Anda tidak terbatas
Anda bisa dapat bonus tanpa butuh verifikasi dan notifikasi
Tertarik ... ? coba ikuti link ini
keuntungannya untuk FBS?
Bonus 100% deposit untuk trading
Promosi kontes tetap dan menguntungkan
Komisi mitra yang paling besar: sampai $80 per lot
Deposit dan penarikan via sistem apapun dalam mata uang apapun
Leverage 1:3000 ... Maknyus paling besar
Posting Komentar - Kembali ke Konten